Di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebuah koperasi peternak sapi perah membuktikan bahwa limbah bisa berubah jadi sumber energi. Koperasi Produsen Karya Nugraha Jaya (KNJ) mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik, sekaligus mencatatkan kinerja usaha yang mengesankan.
Delapan Kuintal Kotoran Sapi Setiap Hari
Kandang koloni KNJ menampung sekitar 40 ekor sapi perah. Setiap ekor menghasilkan 15–20 kilogram kotoran per hari, sehingga totalnya mencapai sekitar 8 kuintal. Kotoran ini dimasukkan ke dua tabung reaktor biogas, lalu sisanya dialirkan melewati lima bak penyaringan.
- Gas dari reaktor dipakai sebagai bahan bakar dapur dan untuk memanaskan sekitar 800 liter air per hari, yang digunakan membilas ambing sapi sebelum diperah agar susu tetap higienis;
- Ampas padat diolah menjadi pupuk organik padat (POD);
- Cairan hasil saringan dijadikan pupuk organik cair (POC);
- Kedua pupuk dipakai menyuburkan rumput gajah yang kemudian dipanen untuk pakan sapi.
Hemat Listrik Berkat Panel Surya
Instalasi biogas berkapasitas 100 meter kubik ini lahir dari kerja sama koperasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Dinas ESDM Jawa Barat. Proyek yang dimulai 2019 sempat tertunda akibat pandemi, lalu rampung pada 2022.
Keberhasilan itu berlanjut dengan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 56 kVA pada akhir 2023. Menurut Ketua KNJ, Iding Karnadi, tagihan listrik koperasi turun dari sekitar Rp 50 juta menjadi Rp 40 juta per bulan, alias hemat sekitar Rp 10 juta setiap bulan.
Dari 10 Peternak Menjadi Hampir 1.000 Anggota
Perjalanan KNJ dimulai pada 1994 dari kelompok kecil berisi sekitar 10 peternak muda dengan 50 ekor sapi dan produksi susu di bawah 200 liter per hari. Kelompok ini resmi menjadi koperasi pada 1997.
Kini anggotanya hampir 1.000 peternak dengan populasi sekitar 4.700 ekor sapi yang tersebar di beberapa desa di Kecamatan Cigugur dan Jalaksana. Produksi susunya mencapai sekitar 28.000 liter per hari. Sekitar 90 persen dikirim ke industri pengolahan susu, sedangkan sisanya diserap UMKM lokal.
Bangkit dari Wabah PMK
Masa terberat datang sekitar April 2022 ketika wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang. Lebih dari 2.000 ekor sapi mati, dan produksi susu anjlok dari sekitar 25.000 menjadi 17.000 liter per hari. Kerugian akibat kematian ternak diperkirakan mencapai Rp 20–40 miliar, belum termasuk sapi yang terpaksa dijual peternak.
Pengurus koperasi tidak menyerah. Lewat koordinasi dengan pemerintah daerah, provinsi, hingga kementerian, serta pengeluaran dana darurat untuk obat dan vaksin, koperasi perlahan pulih. Empat tahun kemudian, produksi kembali menembus 28.000 liter per hari dengan harga susu di tingkat peternak sekitar Rp 8.000 per liter.
Pada akhir 2025, dengan total aset sekitar Rp 30 miliar, KNJ membukukan omzet lebih dari Rp 120 miliar per tahun dari unit usaha susu, pakan ternak, simpan pinjam, dan kedai susu. Koperasi ini juga mempekerjakan 70 karyawan dan sedang menjajaki investor untuk membangun fasilitas pengolahan susu siap minum yang bisa mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Contoh Koperasi yang Berdampak
Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Kuningan, Toni Kusumanto, menyebut KNJ sebagai contoh koperasi yang memberi dampak nyata, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga tumbuhnya usaha turunan berbasis susu di masyarakat.
Saat ini Kabupaten Kuningan memiliki 1.215 koperasi, terdiri dari 839 koperasi reguler dan 376 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Jumlah ini terus bertambah dari 799 koperasi pada 2024.
Kisah KNJ menunjukkan bahwa koperasi yang dikelola dengan prinsip gotong royong, transparan, dan profesional mampu bertahan dari krisis sekaligus berinovasi.
Sumber: Kompas.com
Recent Comments