Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari di Solo, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah membukukan omzet sekitar Rp 300 juta sepanjang Januari hingga Juni 2026, padahal gerainya hanya buka dua jam sehari. Tak hanya itu, koperasi ini juga memiliki aplikasi digital buatan sendiri bernama MyKopKel.

Dikembangkan Ketua Koperasi

Aplikasi tersebut diinisiasi dan dikembangkan langsung oleh Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo, yang memiliki latar belakang usaha di bidang teknologi informasi. Ia dibantu tim teknis berisi empat orang, yaitu programmer, analis sistem, ahli keamanan sistem, dan support system.

MyKopKel tersedia dalam dua versi. Versi web diperuntukkan bagi pengelola koperasi, mencakup manajemen anggota, simpanan, unit usaha seperti gerai, hingga laporan keuangan yang mengacu pada standar akuntansi entitas privat dan tersaji secara real time.

Sementara versi mobile yang tersedia di Play Store digunakan anggota untuk mengisi dompet digital, membayar simpanan pokok dan wajib, berbelanja online, serta memantau riwayat transaksi dan catatan aset pribadi. Pengiriman barang belanja anggota dilakukan bersama Linmas kelurahan sehingga lebih hemat biaya dan memudahkan karena petugas sudah mengenal wilayah.

Aplikasi ini mulai dilirik puluhan KKMP lain di Solo. Kementerian Koperasi pun telah menghubungi Budi dan menyatakan MyKopKel akan diintegrasikan dengan Simkopdes.

Jembatan dan Offtaker, Bukan Pesaing Warung

Budi menjelaskan, koperasi menjalankan dua peran: sebagai jembatan yang menghubungkan produsen dengan warga dan toko kelontong, serta sebagai offtaker yang membuka akses pasar bagi produk UMKM lokal seperti kerajinan, batik, kain, dan camilan kering.

Koperasi menerapkan tiga tingkat harga, yakni harga umum untuk masyarakat, harga khusus untuk anggota, dan harga grosir untuk toko kelontong. Skema ini sengaja dibuat agar koperasi tidak mematikan pedagang kecil. Beberapa warung kelontong kini justru bergabung dan berbelanja (kulakan) di koperasi untuk dijual kembali.

Tantangan Pasokan

Sejak awal, KKMP Banjarsari harus mencari sendiri sumber barang, mulai dari distributor hingga agen terdekat. Pasokan LPG 3 kg, misalnya, hanya 50 tabung per minggu dan biasanya habis dalam dua hari. Koperasi juga bekerja sama dengan Bulog dan ID Food, meski pasokan dari Bulog disebut belum rutin sehingga koperasi kerap mengambil sendiri dan menanggung ongkos tambahan.

Bagi warga, selisih harga menjadi daya tarik utama. Minyak goreng di koperasi dijual Rp 15.800 per liter, lebih murah dibanding di luar yang bisa mencapai Rp 19.000–21.000. Gula dibanderol Rp 17.000 dan LPG 3 kg Rp 18.000, sehingga warga dan pedagang kecil bisa berhemat untuk kebutuhan usahanya.

Sumber: Kompas.com